Showing posts with label iptek. Show all posts
Satelit telkom 3 segera di luncurkan
Motivarts MICOM : Satelit telkom 3 segera di luncurkan - PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) segera meluncurkan Satelit Telkom-3 guna mempertahankan dominasi bisnis satelit sekaligus meningkatkan kualitas dan kapasitas layanan infrastruktur teknologi informasi, dan telekomunikasi.
"Jika tidak ada halangan, pertengahan tahun 2012 atau sekitar Mei-Juni Satelit Telkom-3 akan diluncurkan," kata Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah, di Jakarta, Sabtu (25/2).
Menurut Rinaldi, investasi yang dibelanjakan perseroan untuk membangun hingga meluncurkan Satelit Telkom-3 tersebut mencapai 200 juta dolar AS.
Satelit Telkom-3 memiliki 42 transponder aktif terdiri atas 24 transponder masing-masing 36MHz Standart C-band, 8 transponder 54 MHz Ext. C-band, 4 transponder masing-masing 36 MHz, dan 6 transponder berkapasitas 54 MHz Ku-Band.
Rinaldi menambahkan, cakupan geografis layanan Satelit Telkom-3 mencakup Indonesia, Asean, Indochina, Taiwan, Hong Kong, dan Papua New Guinea dengan Standard C-Band; Indonesia, Papua New Guinea dan North Australia dengan Extended C-Band; dan Indonesia dengan Ku-Band.
"Dari 42 transponder sebanyak 40-45 persen atau sekitar 20 transponder akan dikomersialkan, sedangkan sisanya untuk menambah kapasitas seluruh layanan Telkom Group," tegas Rinaldi.
Menurut catatan, Satelit Telkom-3 ini sudah dua kali mengalami pengunduran jadwal peluncuran. Awalnya, satelit buatan pabrik ISS-Reshetnev Rusia itu akan diluncurkan pada Agustus 2011, namun salah satu mitra yaitu Thales Aleniaspace belum menyelesaikan pekerjaan perangkat komunikasi (Payload).
Sempat juga dijadwalkan meluncur pada akhir 2011, tetapi kembali diundur menjadi triwulan I 2011 hingga akhirnya ditargetkan mengangkasa pada Mei atau Juni 2012.
Menurut Rinaldi, pengunduran jadwal mengorbit Satelit Telkom-3 tersebut tidak akan berpengaruh kepada kualitas layanan yang dimiliki Telkom. "Tidak ada hubungannya. Ini (Telkom-3 satelit baru, bukan menggantikan satelit eksisting," ujarnya.
Ia manambahkan, Satelit Telkom-3 akan memperkuat jaringan dengan mengatasi kebutuhan saluran yang belum terjangkau jaringan teresterial serat optik. (Ant/OL-9)
"Jika tidak ada halangan, pertengahan tahun 2012 atau sekitar Mei-Juni Satelit Telkom-3 akan diluncurkan," kata Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah, di Jakarta, Sabtu (25/2).
Menurut Rinaldi, investasi yang dibelanjakan perseroan untuk membangun hingga meluncurkan Satelit Telkom-3 tersebut mencapai 200 juta dolar AS.
Satelit Telkom-3 memiliki 42 transponder aktif terdiri atas 24 transponder masing-masing 36MHz Standart C-band, 8 transponder 54 MHz Ext. C-band, 4 transponder masing-masing 36 MHz, dan 6 transponder berkapasitas 54 MHz Ku-Band.
Rinaldi menambahkan, cakupan geografis layanan Satelit Telkom-3 mencakup Indonesia, Asean, Indochina, Taiwan, Hong Kong, dan Papua New Guinea dengan Standard C-Band; Indonesia, Papua New Guinea dan North Australia dengan Extended C-Band; dan Indonesia dengan Ku-Band.
"Dari 42 transponder sebanyak 40-45 persen atau sekitar 20 transponder akan dikomersialkan, sedangkan sisanya untuk menambah kapasitas seluruh layanan Telkom Group," tegas Rinaldi.
Menurut catatan, Satelit Telkom-3 ini sudah dua kali mengalami pengunduran jadwal peluncuran. Awalnya, satelit buatan pabrik ISS-Reshetnev Rusia itu akan diluncurkan pada Agustus 2011, namun salah satu mitra yaitu Thales Aleniaspace belum menyelesaikan pekerjaan perangkat komunikasi (Payload).
Sempat juga dijadwalkan meluncur pada akhir 2011, tetapi kembali diundur menjadi triwulan I 2011 hingga akhirnya ditargetkan mengangkasa pada Mei atau Juni 2012.
Menurut Rinaldi, pengunduran jadwal mengorbit Satelit Telkom-3 tersebut tidak akan berpengaruh kepada kualitas layanan yang dimiliki Telkom. "Tidak ada hubungannya. Ini (Telkom-3 satelit baru, bukan menggantikan satelit eksisting," ujarnya.
Ia manambahkan, Satelit Telkom-3 akan memperkuat jaringan dengan mengatasi kebutuhan saluran yang belum terjangkau jaringan teresterial serat optik. (Ant/OL-9)
Tag :
iptek
Pemanasan global bisa menciutkan kuda
Motivarts : Pemanasan global bisa menciutkan kuda - Pemanasan global ternyata tidak hanya menyebabkan tingginya air laut, badai hebat, kekeringan, dan kepunahan, tetapi juga menimbulkan penyusutan makhluk hidup. Penyusutan ini melanda Sifrhippus, kuda pertama, dari spesies Sifrhippus sandrae, seperti disampaikan para ilmuwan dalam Journal Science, Kamis (23/2).
Menurut Journal, Sifrhippus terkena dampak pemanasan global pada 56 juta tahun yang lalu yang mengakibatkan tubuhnya menyusut. Berat badan Sifrhippus berkurang 12 pon (5,4 kg) menjadi 8.5 pon (3,9 kg) setelah suhu planet Bumi semakin memanas.
Kawanan Sifrhippus tinggal di wilayah Bighorn Basin, Wyoming, Amerika Serikat, yang didiami banyak mustang. Sebenarnya, kuda tersebut tidak jauh berbeda dengan mustang. Namun, tingginya hanya sebesar kucing, dan memakan daun dan rerumputan seperti halnya kuda biasa.
Kuda tersebut tinggal di era Paleocene-Eocene, sekitar 175 ribu tahun yang lalu, ketika suhu meningkat hingga 9-18 derajat, dan kembali menurun di akhir periode tersebut. Ilmuwan telah memperkirakan banyak mamalia yang menyusut di periode tersebut.
Dalam Journal Science, Ross Secord, dari Universitas Nebraska-Lincoln dan Jonathan Bloch, dari Museum of Natural History di Universitas Florida di Gainesville, serta tim peneliti lainnya telah mengumpulkan dan menganalisis fosil Sifrhippus. Hasil dari analisis tersebut adalah 30% ukuran kuda menyusut selama 130 ribu tahun pertama, dan kemudian berat badannya kembali membesar hingga 75% pada 45 ribu tahun setelahnya. Fosil-fosil menunjukkan Sifrhippus terkecil beratnya sekitar 8,5 pon (3,9 kg), yang paling berat hanya sekitar 15 pon (6,8 kg). Dr Secord berpendapat bahwa fenomena tersebut adalah seleksi alam, dan hewan akan berevolusi menjadi lebih kecil karena iklim semakin panas karena hewan kecil tidak memiliki ketahanan tubuh yang lebih baik di iklim panas dibandingkan hewan berukuran besar. (Newyorktimes/*/OL-10)
Menurut Journal, Sifrhippus terkena dampak pemanasan global pada 56 juta tahun yang lalu yang mengakibatkan tubuhnya menyusut. Berat badan Sifrhippus berkurang 12 pon (5,4 kg) menjadi 8.5 pon (3,9 kg) setelah suhu planet Bumi semakin memanas.
Kawanan Sifrhippus tinggal di wilayah Bighorn Basin, Wyoming, Amerika Serikat, yang didiami banyak mustang. Sebenarnya, kuda tersebut tidak jauh berbeda dengan mustang. Namun, tingginya hanya sebesar kucing, dan memakan daun dan rerumputan seperti halnya kuda biasa.
Kuda tersebut tinggal di era Paleocene-Eocene, sekitar 175 ribu tahun yang lalu, ketika suhu meningkat hingga 9-18 derajat, dan kembali menurun di akhir periode tersebut. Ilmuwan telah memperkirakan banyak mamalia yang menyusut di periode tersebut.
Dalam Journal Science, Ross Secord, dari Universitas Nebraska-Lincoln dan Jonathan Bloch, dari Museum of Natural History di Universitas Florida di Gainesville, serta tim peneliti lainnya telah mengumpulkan dan menganalisis fosil Sifrhippus. Hasil dari analisis tersebut adalah 30% ukuran kuda menyusut selama 130 ribu tahun pertama, dan kemudian berat badannya kembali membesar hingga 75% pada 45 ribu tahun setelahnya. Fosil-fosil menunjukkan Sifrhippus terkecil beratnya sekitar 8,5 pon (3,9 kg), yang paling berat hanya sekitar 15 pon (6,8 kg). Dr Secord berpendapat bahwa fenomena tersebut adalah seleksi alam, dan hewan akan berevolusi menjadi lebih kecil karena iklim semakin panas karena hewan kecil tidak memiliki ketahanan tubuh yang lebih baik di iklim panas dibandingkan hewan berukuran besar. (Newyorktimes/*/OL-10)
Tag :
iptek


